Bukan Lagi Soal Harga, Brand Image Kini Jadi Penentu Daya Saing UMKM
Rabu, 12 Agustus 2026 | 10:00 WIB

LINKUMKM – Mengapa ada produk yang rela dibeli dengan harga lebih tinggi, padahal memiliki fungsi yang sama dengan produk lain yang lebih murah? Jawabannya bukan semata-mata kualitas produk, melainkan brand image. Bagaimana cara konsumen memandang, mengingat, dan mempercayai sebuah merek. Di tengah persaingan yang semakin ketat, persepsi sering kali menjadi pembeda utama yang menentukan keputusan pembelian.
Inilah yang menjadi benang merah dalam sesi pelatihan "Membangun Brand Image yang Kuat untuk Meningkatkan Daya Saing UMKM" bersama Fadel Yulian, Copywriting & Content Consultant. Pelatihan ini mengajak pelaku UMKM memahami bahwa membangun bisnis tidak cukup berhenti pada menghasilkan produk yang baik, tetapi juga bagaimana menciptakan alasan mengapa konsumen harus memilih produk tersebut. Dalam pemaparannya, Fadel menjelaskan bahwa banyak pelaku UMKM masih terjebak dalam persaingan harga. Ketika semua pelaku usaha mengklaim produknya "terbaik", "termurah", atau "berkualitas", pelanggan pada akhirnya hanya memiliki satu pembanding, yaitu harga.
Padahal, konsumen sesungguhnya membeli lebih dari sekadar produk. Mereka membeli rasa percaya, pengalaman, identitas, hingga cerita yang melekat pada sebuah brand. Persepsi inilah yang membuat pelanggan bersedia membayar lebih mahal dan tetap kembali membeli produk yang sama. Salah satu pembahasan yang mendapat perhatian peserta adalah bagaimana menemukan keunikan (unique value proposition) yang tidak mudah ditiru kompetitor. Keunikan tersebut tidak selalu berasal dari produk, tetapi dapat muncul dari proses produksi, bahan baku, kisah pendiri usaha, hingga dampak sosial yang dihasilkan.
Artinya, dua produk yang tampak serupa dapat memiliki nilai yang sangat berbeda ketika masing-masing mampu menceritakan alasan keberadaannya kepada pelanggan.
Pelatihan juga menekankan pentingnya mengenali target pasar secara lebih spesifik. Sebelum menentukan strategi branding, pelaku UMKM perlu memahami siapa konsumennya, masalah apa yang mereka hadapi, serta alasan mereka membeli sebuah produk. Dengan demikian, identitas brand dapat dibangun sesuai kebutuhan pelanggan, bukan berdasarkan asumsi pemilik usaha.
Selain branding, peserta diperkenalkan pada teknik storytelling dan copywriting sebagai alat untuk memperkuat komunikasi pemasaran. Sebuah cerita yang autentik mampu menciptakan hubungan emosional dengan pelanggan, sementara copywriting membantu menyampaikan pesan yang menarik perhatian sekaligus mendorong tindakan, mulai dari membaca lebih lanjut hingga melakukan pembelian.
Melalui sesi ini, peserta tidak hanya mempelajari cara membuat produk terlihat menarik, tetapi juga memahami bahwa membangun brand merupakan investasi jangka panjang. Ketika sebuah UMKM berhasil menciptakan persepsi yang positif di benak konsumen, maka persaingan tidak lagi hanya ditentukan oleh siapa yang menjual paling murah, melainkan oleh siapa yang paling dipercaya.

