Hadapi Musim Kemarau UMKM Klaster Pertanian Didorong Terapkan Pertanian Adaptif

Rabu, 23 September 2026 | 09:13 WIB

Hadapi Musim Kemarau, UMKM Klaster Pertanian Didorong Terapkan Pertanian Adaptif

Jakarta - Musim kemarau menjadi salah satu tantangan yang perlu diantisipasi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sektor pertanian. Berkurangnya curah hujan dapat menyebabkan ketersediaan air menurun, mengganggu pertumbuhan tanaman, hingga meningkatkan risiko penurunan produktivitas dan gagal panen.

Melalui seminar pendampingan UMKM Klaster Pertanian yang diselenggarakan Klasterku Hidupku pada 9 September 2026, peserta mendapatkan edukasi mengenai strategi menghadapi musim kemarau melalui penerapan pertanian adaptif. Materi disampaikan oleh Retno Wijayanti dari Klinik Tanaman, Prodi Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (FP UNS).

Kenali Dampak Musim Kemarau

Keterbatasan air tidak hanya menyebabkan tanaman kekurangan air, tetapi juga dapat mengurangi penyerapan unsur hara oleh akar dan menurunkan kelembapan tanah. Pada tanaman padi, kondisi tersebut dapat menyebabkan keterlambatan penanaman, berkurangnya luas tanam, penurunan produktivitas, hingga puso atau gagal panen, terutama pada sawah yang bergantung pada curah hujan. Karena itu, pelaku usaha pertanian perlu melakukan penyesuaian dalam proses budidaya, mulai dari menentukan waktu tanam hingga mengatur penggunaan air.

Tujuh Strategi Pertanian Adaptif

Beberapa strategi yang dapat diterapkan untuk menghadapi musim kemarau meliputi:

  1. Menyesuaikan Waktu Tanam, sesuaikan waktu tanam dengan prediksi hujan dan kebutuhan air tanaman.
  2. Memilih Varietas Adaptif, gunakan varietas yang tahan kekeringan atau berumur genjah.
  3. Menyesuaikan Komoditas, pilih tanaman yang membutuhkan lebih sedikit air, seperti jagung, kedelai, atau kacang-kacangan.
  4. Diversifikasi Komoditas, tanam lebih dari satu komoditas untuk mengurangi risiko penurunan hasil dan pendapatan.
  5. Menerapkan Teknik Budidaya Tepat, gunakan mulsa dan bahan organik untuk menjaga kelembapan tanah.
  6. Mengatur Penggunaan Air, optimalkan air melalui penampungan, irigasi tetes, pengaturan waktu penyiraman, atau sistem AWD pada padi.
  7. Memanfaatkan Informasi BMKG, gunakan informasi cuaca dan prakiraan musim sebagai dasar menentukan strategi budidaya.

Adaptasi Jadi Kunci Pertanian Berkelanjutan

Menghadapi musim kemarau membutuhkan perencanaan dan kemampuan beradaptasi. Pelaku UMKM pertanian tidak hanya perlu memperhatikan ketersediaan air, tetapi juga menyesuaikan waktu tanam, memilih varietas dan komoditas yang sesuai, serta menerapkan teknik budidaya yang dapat menjaga kelembapan tanah.

Komentar

Media Lainnya